Kamis, 22 Mei 2008

Besar karena kurang ajar


Majalah Forbes edisi 26 Juli 1999 memuat daftar dua belas manusia ‘kurang ajar’ yang merubah dunia Web. Sebuah dunia, yang diyakini banyak orang sedang mewarnai wajah masa kini dan masa depan. Dengan judul ‘The e-Gang, Twelve mavericks who are rewriting the rules of web’, Forbes menyajikan rangkaian cerita yang amat menarik perhatian saya.

Sebagai gambaran awal, dua belas manusia ini amat bervariasi. Berumur diantara 23 sampai 63 tahun ini. Kebanyakan bekerja di lembah Silicon. Sebagian dari mereka adalah milyarder, yang lain mengendarai Pontiac, ada juga hanya mengembangkan teknologi dan diserahkan penjualannya pada perusahaan lain. Namun, mereka memiliki satu hal yang sama, dalam bahasa Forbes : a fierce willingness to flout conventional wisdom. Alias, kemauan yang kuat, serta kesenangan yang mendalam untuk melecehkan kebijakan-kebijakan konvensional.

Betapa kurang ajarnya dua belas manusia ini. Sementara kebanyakan orang hanya bekerja dan berfikir dalam bingkai-bingkai umum, mereka malah menghina, mencemooh dan melecehkan bingkai terakhir.

Coba perhatikan bukti-bukti kekurangajaran mereka. Eric Brewer dari Inktomi menyebutkan, memperoleh uang bukanlah barometer sukses. Banjir uang akan dialami siapa saja yang bersahabat dengan inovasi. Bill Gross dari Idealab menyebutkan, semua peradaban dunia bisnis sedang didorong oleh revolusi industri : Do more at once. Bigger is better…That’s dead. Donna Dubinsky dari Handspring lain lagi, inovasi tidak akan datang dari perusahaan besar. Ia mengalir di tempat di mana kaidah-kaidah smartness dihargai. Gene Hoffman dari Emusic bahkan lebih kurang ajar lagi. ‘The power has shifted to the artist’. Kekuasaan, sudah menjadi milik kaum ’seniman’.

Atau cermati aturan-aturan yang dibuat dua belas maverick di atas. Diantaranya, biarkan saja masyarakat yang mengelola bisnis Anda, untuk memulai revolusi buang jauh-jauh tongkat kontrol, perdagangkan produk tidak dengan uang melainkan dengan loyalitas, go publik dulu baru kemudian menghasilkan uang.

Bagi mereka yang biasa berfikir teratur, ikut kemauan kebanyakan orang, atau mau aman dengan bersembunyi di balik opini publik, keduabelas manusia di atas mudah sekali dimasukkan ke dalam kotak ‘kurang ajar’. Namun, justru mereka menjadi besar karena kekurangajaran tadi.

Dalam sebuah diskusi dengan tokoh pendidikan Dr. J. Riberu serta usahawan Bob Sadino di Lembaga PPM, beliau mengemukakan perlunya faktor common sense sebagai syarat kepemimpinan. Bagi saya, dengan common sense orang sedang dibuat menjadi manusia kebanyakan (commoner). Pelukis-pelukis peradaban seperti pemimpin, lebih membutuhkan sense of destruction. Secara lebih halus, memerlukan sense of creation.

Banyak yang bisa dilakukan untuk menciptakan sense of creation terakhir , salah satunya dengan membuat dan memotivasi orang agar kurang ajar. Dengan demikian, pemimpin, manajer, dosen, konsultan, dan pengamat dengan kerangka berfikir baku - lebih-lebih disertai hobi sedikit-sedikit menyebut orang lain gopar (gobloknya parah) - sebaiknya segera minggir saja dari dunia pengembangan kreativitas dan inovasi.

Dunia imajinasi, terus terang, tidak memerlukan manusia-manusia baik yang hanya mengangguk, kemudian mengukur orang lain dengan standar yang sama. Kita memerlukan lebih banyak mavericks yang hidup tanpa paradigma, tanpa standard. Sebaliknya, setiap hari manusia jenis ini secara kurang ajar menciptakan standar-standar aneh bahkan gila buat kehidupan.

Bukan untuk membuat kehidupan menjadi gila dan kacau, namun memberi pembanding, kesegaran sudut pandang, dan keterbukaan jendela fikiran. Persis seperti dua belas mavericks di atas. Dengan segala kekurangajarannya, mereka tidak sedang memperkacau kehidupan, tetapi sedang menulis kembali aturan-aturan main yang selama ini diberhalakan.

Dengan fikiran yang bebas berkelana, tanpa batas dan dinding, tidak ada beban takut untuk disebut salah bahkan dilecehkan, berani dimusuhi dan dihina orang, adalah rangkaian sifat yang melekat pada pelukis-pelukis peradaban masa depan.

Seperti pelukis yang sebenarnya. Fikiran boleh ada di mana-mana, tidak dibatasi oleh apapun, namun tangan tetap aktif mencipta, mencipta dan mencipta. Atau sama dengan sahabat saya Bob Sadino, ketika ditanya kenapa selalu pakai celana pendek dipotong serta baju yang juga dipotong, ia menjawab enteng dan bebas : ‘nanti kalau rapi malah dikira sakit dan miring’. Sebuah jawaban tanpa batasan, penuh percaya diri, namun selalu diikuti oleh ketekunan untuk mencipta, mencipta dan mencipta.

Satu spirit dengan penulis buku The Fourth Wave, yang menyebutkan kecenderungan amat kuat di masyarakat untuk kecewa dengan kemahakuasaan pengetahuan, saya juga kecewa dengan manajemen.

Manajemen - terutama yang berbentuk rumus - sebagai bingkai inovasi berisi terlalu banyak batasan. Dari perencanaan sampai dengan pengawasan, dari marketing sampai dengan keuangan, dari Taylor sampai dengan Drucker, isinya penuh dengan batasan.

Di titik ini, mungkin kita memerlukan lebih banyak orang dan lembaga untuk melakukan proses management unlearning. Gurunya seperti keduabelas mavericks ala Forbes di atas : besar karena kurang ajar.